Syawal, Bulan Kemenangan

Bulan Kemenangan Ramadhan telah pergi. Syawal pun datang. Sebulan lamanya, umat Islam di seluruh dunia telah menempuh gemblengan lahir dan batin yang sangat intensif untuk menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT. Kini, umat Islam memasuki Syawal, bulan kesepuluh dalam penanggalan hijriyah. Syawal berarti peningkatan yang memiliki makna bahwasanya selepas umat Islam digembleng lahir dan batin selama Ramadhan diharapkan mereka yang menjalani dengan sungguh-sungguh gemblengan tersebut akan meraih derajat taqwa, menjadi muttaqin. Sejatinya, kualitas ibadah dan kualitas diri seseorang meningkat.

Syawal bisa menjadi awal pembuktian keberhasilan seseorang menjalani gemblengan dengan segenap ibadah Ramadhan. Bila seorang muslim atau muslimah berhasil dengan gemblengan selama Ramadhan, sudah tentu seorang muslim/muslimah bakal merasa kehidupannya menjadi lebih baik. Aktivitas atau amal shalehnya bertambah, sifat kikir lenyap atau berkurang tergantikan sikap dermawan. Umat muslim pun menjadi lebih khusyu dalam beribadah, serta merasa lebih bermanfaat bagi sesama. Paling tidak, semangat beribadah kaum muslim tidak menurun setelah Ramadhan dan konsisten atau bersikap istiqamah dalam amal yakni dengan mengerjakan amal ibadah secara berkelanjutan dan terus menerus sehingga memiliki derajat yang mulia. Hal ini telah diingatkan Allah SWT dalam Al Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertakwa.”

Artinya pula, umat Islam dituntut untuk menghindari penurunan amal. Fenomena ironis yang seringkali muncul dalam kondisi masyarakat kekinian adalah ‘kebiasaan lama’ yang muncul pasca-Ramadhan. Hal ini bisa disimak dari perayaan Idul Fitri yang terasa berlebihan dengan musik dan tarian,

dibukanya kembali tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup atau dibatasi jamnya. Masjid-masjid kembali sepi dari jamaah shalat lima waktu. Umpatan, luapan emosional, ghibah, dan kemarahan kembali membudaya. Fenomena itu sesungguhnya juga menunjukkan kepada umat Islam, bahwa puasa sebagiam kaum muslim yang demikian tidak berhasil lantaran tidak atau belum mampu mengantarkan seseorang meraih derajat takwa, atau mendekatinya.

Seorang ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar bahwa seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shaleh adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun. Sudi kiranya, bagi mereka untuk menyimak hadis Nabi sebagai kaidah yang seharusnya kita perhatikan sebaikbaiknya: “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.”

Sejatinya, penurunan kualitas ibadah pasca-Ramadhan juga hal yang dihindari para umat Islam di era Rasulullah SAW. Salah satunya, seperti yang pernah dicatat dalam sejarah pada Perang Khandaq juga dikenal juga sebagai Pertempuran Al Ahzab, Pertempuran Konfederasi, dan Pengepungan Madinah yang terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah atau pada tahun 627 Masehi. Pengepungan Madinah ini dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy Makkah dan kaum Yahudi Bani Nadir (Al Ahzab). Pengepungan Madinah dimulai pada 31 Maret, 627 H dan berakhir setelah 27 hari.

Pada peperangan ini, kaum muslimin harus bertempur melawan pasukan beragam yang merupakan gabungan dari Quraisy, Ghatafan, dan lain-lain, serta menggunakan strategi membuat parit di sekeliling Madinah untuk bertahan dan terbukti efektif, hingga pasukan Ahzab tidak bisa menyerang masuk Madinah. Penggalian parit atau khandaq ini adalah kerja keras yang luar biasa. Persatuan kaum muslimin benar-benar terasa. Begitupun keimanan mereka dan doa-doa yang khusyu' semakin mendekatkan mereka kepada Allah SWT.

Dalam peristiwa ini, beragam cerita kepahlawanan bermunculan mulai dari Nu'aim bin Mas'uda yang memecah belah pasukan Ahzab dan bani Quraidzah yang berkhianat di belakang kaum muslimin, sampai keberanian dan kecerdasan Hudzaifah Ibnul Yaman yang menerobos perkemahan pasukan Quraisy untuk mencari informasi.

Hal ini merupakan bukti peningkatan yang luar biasa pasca-Ramadhan. Allah SWT pun menolong kaum muslimin dengan menurunkan angin topas yang memporakporandakan perkemahan pasukan Quraisy. Tak hanya itu, angin pun turut memecahkan periuk-periuk dan memadamkan api mereka sehingga akhirnya pasukan gabungan kembali ke rumah mereka dengan kegagalan menaklukan kota Madinah.

Oleh karenanya, sejak bulan Syawal tidak sepantasnya membuat ibadah dan kualitas diri umat Islam menurun. Justru seharusnya, sesuai dengan makna Syawal, maka umat Islam harus mengalami peningkatan dengan berupaya istiqamah serta meningkatkan kualitas ibadah dan diri, di antaranya dengan puasa Syawal. Bila hal itu bisa dengan baik dijalani, umat Islam layak menyambut kemenangan sebagaimana kemenangan yang diperoleh kaum muslimin pada Perang Khandaq.

 

AS - dari berbagai sumber

 
 
 
 
 
 
 
 
RizVN Support